7.25.2013

Karena Maaf Tidak Cukup



Ini cerita hati, tentang mereka yang sebenarnya ingin menjerit saking bencinya tapi ingin menangis saking sayangnya.

Mungkin benar ya kata orang, bahwa cinta dan benci itu bedanya tipis. Hal yang membatasinya adalah harapan. Ketika harapan tidak terpenuhi, maka muncullah kecewa lahirlah benci. Begitu pun sebaliknya. 

Banyak mereka yang ku temui, mengatakan mereka amat membenci namun bisa ku lihat ada batasan cinta yang kabur. Mengapa harus membenci? Mengapa memaafkan itu terkadang  sangat sulit? tanyaku, tanyaku juga pada diriku sendiri.

Karena maaf itu tidak cukup.

"Lempar dan pecahkan gelas ini!"

"Ya."

"Apa kamu bisa menyusunnya kembali dengan lem."

"Mungkin bisa."

"Apa kamu bisa mengisinya kembali dengan air."

"Bisa."

"Menurutmu, apakah airnya akan tumpah?"

"Tentu saja."

***

"Remas kertas ini!"

"Ya."

"Buka lagi, rapikan seperti semula."

"Mana mungkin."

***

"Pasangkan paku pada papan ini!"

"Baik."

"Cabut kembali pakunya!"

"Ini."

"Tutup kembali lubangnya, kau bisa?"

"Mana mungkin."

***

Gelas, kertas dan papan itu seperti hati. Sekali kamu pecahkan, kamu remas, kamu lubangi tidak akan kembali. Sekalipun bisa kamu perbaiki, itu tidak akan sempurna. Oleh karena itu, jangan menuntut hati yang terluka untuk kembali utuh seperti semula, ketika kamu sendiri tak punya kuasa unutk melakukannya.

Berhati-hatilah. Karena maaf itu tidak cukup, teman.

No comments: