1.11.2015

Garis Start

Waktu itu, tepatnya semester 5, banyak hari-hari yang saya lalui dengan mengeluh. Entah menggerutu bersama teman-teman senasib dan seperjuangan atau hanya di dalam hati. Semester 5 memang menjadi semester puncak kejenuhan. Padatnya praktikum, kegiatan organisasi, beban kuliah yang semakin berat dan tentunya tugas yang selalu datang silih berganti. Semuanya ada di pundak ini.

Inilah, apa yang saya rasakan saat itu

Namun saya tahu, untuk ke sekian kalinya, bahwa menyerah bukanlah sebuah pilihan. Mau tidak mau, saya tetap berusaha untuk berkerja keras, menahan setiap perasaan jenuh yang ada, dan berusaha tetap memberikan yang terbaik yang saya bisa lakukan.

Spirit of hardwork!

Meskipun begitu, ada hari dimana saya merasa teramat sangat jenuh dan tidak mampu lagi untuk menahannya. Waktu itu, saya merasakannya. Sumpek, bosan, jenuh dan merasa terpenjara. Saya sempat menangis karena perasaan itu. Sampai akhirnya, saya putuskan untuk menelepon ibu saya.

Waktu itu, tidak ada pembicaraan tentang kuliah sama sekali. Ibu hanya bertanya, "Ndok baik-baik aja kan?" dan seperti biasa, saya menjawab, "Ayu baik aja ma.." sekalipun saya sedang demam tinggi atau typus saya kambuh. Kemudian, beliau mulai bercerita banyak hal. Tentang kabar terbaru seputar tetangga atau sanak saudara.

Ada satu topik pembicaran yang menarik kala itu. Ibu menceritakan mengenai seorang anak, yang secara garis besar mengecewakan orang tuanya. Lalu, ibu saya berkata. "Ayu harus jaga diri, harus ingat tujuan kuliah itu apa". Tanpa panjang lebar, saya sudah sangat mengerti maksud ibu, pun saya telah sepakat.

Lalu, saat itu saya mulai menyadari apa yang menjadi bahan bakar semangat saya selama ini. Saya selalu punya tekad, untuk menjadi anak yang bisa dibanggakan. Saya tau, sejelek apapun sikap anaknya, tidak punya prestasi sekalipun, pasti orang tua akan membanggakan anaknya. Maka, ketika hilang sudah hal yang bisa dibanggakan, maka orang tua kita tentu akan sangat bersedih. Syukur-syukur tidak membuat malu, kasarnya begitu.

Dengan itu saya pun kembali bangkit, kembali menata perasaan dan semangat yang terkikis. "Saya pasti akan menjadi anak kebanggan ibu dan bapak". Akan ada hari dimana Ibu dan bapak akan berdiri dengan bangganya di samping saya. Menatap dengan harunya manis dari perjuangan ini. Semoga hari itu akan datang, menghapus semua kepahitan di masa ini. Semua lelah, semua jenuh, semua bosan akan lenyap. Kembali lagi saya ingat garis start itu, sebuah permulaan dimana saya bertekad untuk menjadi kebanggaan mereka.

***

Ini tulisan saya persis ketika masih semester 5, sekarang sudah semester 7. Sengaja saya simpan dan saya jadikan draft di blog ini. Sayang untuk dihapus karena lumayan panjang. Entah kenapa saya tidak menjadikannya postingan sekian lama. Sekarang, di saat saya sedang lelah, jenuh, atau lebih tepatnya malas sekali menyentuh file skripsi, saya membaca kembali tulisan ini. Semester 5 adalah semester yang berat sekali, cukup sekali saya merasakannya. Hehe. Namun toh, seberat apapun itu ternyata saya mampu melewatinya. Saat ini pun, hal yang saya anggap berat dan sulit pasti akan berlalu. Karena saya yakin, beban tidak dipikulkan pada pundak yang salah.

Pasti bisa.

No comments: