1.11.2015

Fenomena Ngaret

Gambar dari komikmuslimah
Tentunya anda yang sedang membaca tulisan ini tidak asing dengan kata ngaret. Bahkan, sudah sangat familiar dengan pemikiran "Namanya juga orang Indonesia, pasti ngaret!".#miris

Saya salah satu orang yang sangat membenci hal yang satu ini. Sering saya dapati rekan ataupun teman terlambat saat membuat janji pertemuan. Terkadang, hal yang menurut saya cukup menyebalkan adalah mereka membuat waktu pertemuan lebih awal dari yang sebenarnya agar semua orang datang di waktu yang tepat. Ini tidak masalah ketika tujuannya memang baik. Apalagi kalau bukan untuk 'mengakali' orang yang hobi terlambat. Akan tetapi, hal yang membuat saya cukup geram adalah justru ketika si pelaku (yang membuat jadwal pertemuan) terlambat atau sengaja melakukannya agar tidak menunggu.

Tepat waktu adalah sikap yang saya kira harus dimiliki oleh semua orang. Sayangnya, tidak semua orang berpikir demikian. Banyak orang tidak tepat waktu dengan alasan klise, 'tidak mau menunggu'. Bayangkan jika semua bersikap seperti itu.

Misal, si A akan bertemu dengan si B dan C. Lalu si A berpikir, B dan C pasti terlambat. Daripada harus menunggu, A memutuskan untuk datang 30 menit lebih lama dari jam yang telah ditentukan. Lalu, si B pun berpikiran sama dengan A sehingga ia pun juga memutuskan datang 'agak' terlambat. Sedihnya, si C datang tepat waktu lalu mendapati teman-temannya bersikap demikian. Di lain kesempatan, si C tidak lagi datang tepat waktu karena merasa kapok. Ia tidak mau lagi menunggu seperti pertemuan sebelumnya. Nah, kira-kira jam berapakah--tepatnya--mereka akan benar-benar bertemu?

Jawabannya adalah sampai ladang gandum dihujani meteor cokelat dan jadilah coco crunch! Hehe.

Saya yakin, sebagian dari kalian pernah mengalami hal tersebut. Mungkin anda seperti si A atau B, atau mungkin si C. Jika anda adalah si C dan tidak berubah--tetap tepat waktu--meskipun menghadapi hal demikian, saya salut! Itu adalah sikap yang tidak mudah untuk dipertahankan di tengah-tengah kebiasaan masyarakat kita.

Coba bayangkan jika ilustrasi yang saya katakan di atas terjadi berulang-ulang. Mungkin akan ada banyak orang yang menjadi seperti C. Maka berhentilah menjadi si A dan B jika anda termasuk di dalam kelompok tersebut. Berhentilah merugikan (waktu) orang lain.

Sekarang, kira-kira bagaimana solusinya?

Menurut saya, cara untuk memutus lingkaran setan ini adalah dengan tidak menunggu mereka yang terlambat. Kita terlalu toleran terhadap sikap-sikap buruk seperti ini. Selama si tukang terlambat masih ditunggu, maka mereka masih merasa cukup penting--banyak orang merasa cukup penting karena ditunggu. Dan tentunya merasa sikap tersebut tidak apa-apa jika dilakukan kembali. Kebiasaan ini pun akan mengakar. Tidak hanya itu, akan mempengaruhi orang lain pula untuk bersikap serupa. Oleh karena itu, berhentilah menunggu mereka yang terlambat. Biarkan mereka merasakan kerugian atas keterlambatan tersebut.

Tidak mudah memang melakukan hal itu. Tetapi inilah cara memutuskannya. Ingatlah, orang yang sengaja terlambat bukan orang yang pantas untuk ditunggu.

Mari kita belajar menghargai waktu (sebagian hidup) orang lain.


Gambar dari komikmuslimah

No comments: