11.17.2013

Saat Menyukai Seseorang

Bismillahirrahmanirrahim..

Jika segala sesuatu terjadi bukan karena kebetulan semata, maka sungguh ajaib kehidupan ini. Terlebih sang pengatur 'ketidak-kebetulan' banyak hal, betapa 'keren'-nya sampai bisa mengatur kehidupan bermilyar-milyar orang. Jangankan segitu banyak, kita yang harus mengatur diri sendiri saja kadang masih kesulitan. Subhanallah, Dia itu ya.. ^^

Begitu pula beberapa hal yang terjadi pada saya belakangan ini. Bukan sesuatu yang spesial mungkin bagi beberapa orang, namun bagi saya sepertinya lewat kejadian demi kejadian itulah saya diberi jawaban atas apa yang saya pertanyakan. Mungkin belum menuju jawaban akhir, tapi saya diperlihatkan bahwa ada banyak jalan yang bisa ditempuh.

Termasuk terakhir kali saat saya membaca tweet dari akun mba @pewski, tentang menyukai seseorang. Sejak saya kebingungan, sampai akhirnya menemukan akun mba yang satu ini dan membaca tulisan-tulisannya, pastilah itu bukan sebuah kebetulan. Barangkali, lewat situ lah jawaban diberikan. Yah, jadi ketahuan deh ini bingung soal apa. Hehe. Tidak juga, itung-itung dapat ilmu dan pencerahan baru. :]

#MenyukaiSeseorang adalah hak siapapun. Tapi menghargai yg disukai dgn mengizinkannya bebenah diri adalah pilihan wajib :)
#MenyukaiSeseorang tidak memberimu alasan apapun untuk merusak dirinya, walaupun hanya sekedar sentuh-sentuh :)

 #MenyukaiSeseorang tidak membuatmu leluasa untuk mengobral kata cinta tanpa makna yg penting dia suka :)

#MenyukaiSeseorang seharusnya tdk membuatmu menahan nasihat2 baik dengan alasan "demi menjaga perasaan". Sampaikan kalau memang baik :)
#MenyukaiSeseorang bukan berarti menghabiskan seluruh waktumu membahagiakannya, tp mensinergikan diri dgn pemiliknya, Allah :)
#MenyukaiSeseorang seharusnya tak buatmu hiasi area sosial media dengan kalimat-kalimat galau yg mengganggu :)
#MenyukaiSeseorang bukan berarti menggantungkan seluruh harapan hidupmu padanya. Pantas begitu ia pergi, runtuhlah hidupmu :)
#MenyukaiSeseorang memberimu ruang utk berkaca dan bertanya pantaskah? Kemudian memantaskan diri. Bukan sibuk membangun 'topeng' :)

 #MenyukaiSeseorang harusnya memberimu semangat. Semangat utk lebih dekat dengan-Nya, sebab yg kau sukai adlh jg milik-Nya :)

#MenyukaiSeseorang harusnya buat dirimu semakin produktif, hitung-hitung persiapan utk lebih bertanggungjawab, bukan semakin manja :)

#MenyukaiSeseorang itu salah jika malah membuatmu merubah diri menjadi seperti yg dia mau. Jangan gadaikan jati dirimu :)

#MenyukaiSeseorang harus segera disudahi bila justru tak bawa dirimu dalam perbaikan kualitas diri, melainkan rajin dilanda sedih hati :)
#MenyukaiSeseorang harusnya tidak buatmu berlomba dgn yg lain untuk mendapatkannya, tapi berlomba dgn dirimu yg lama :)
#MenyukaiSeseorang adlh dosa jika justru buatmu lupa pada kedua orangtua. Lbh bangga menemani yg disuka, daripada mengabdi dan berbakti :)
Dear tweeps.. Berhati-hatilah dalam #MenyukaiSeseorang .. perhatikan grafik hidupmu.. meningkatkah atau justru menurun tajam :)
Terakhir.. #MenyukaiSeseorang adlh ibadah jika justru buatmu beranikan diri melangkah dlm satu-satunya jenis hubungan halal, pernikahan :)

Nah satu hal yang saya garis bawahi dari tweet mba @pewski adalah tweet berikut ini:

#MenyukaiSeseorang memberimu ruang untuk berkaca dan bertanya pantaskah? Kemudian memantaskan diri. Bukan sibuk membangun 'topeng' :)



Sedikit merasa tertampar. Seringkali saya lupa untuk itu. Kadang, kalau tidak 'pas' malah memaksakan sesuatu itu untuk 'pas'. Seperti ketika kita membeli sepatu, sesuka apapun, sebagus apapun sepatu itu, kalau ukurannya tidak sesuai ya tidak bisa kita pakai. Kalau memaksa, malah akan menyakiti kaki kita. Barangkali, ada sepatu yang lebih sesuai di tempat lain. Dan soal sepatu ini, bukan melulu soal suka atau tidak, bagus atau tidak, tapi nyaman atau tidak.

Menyukai seseorang memang harusnya memberi kita ruang, kira-kira sudah cukup pantaskah saya ini? Jika belum, maka saya akan memantaskan diri untuk dia. Nah, lagi-lagi soal perkara ini saya kembali dikasih jawaban lewat tulisan seseorang yang mampir di Linimasa saya. Dia bicara soal pernikahan, dari sisi yang mungkin belum saya pikirkan sepenuhnya.

Dibandingkan sibuk untuk mencari orang yang tepat, lebih baik menyibukkan diri dengan persiapan saat bertemu dengan orang tersebut suatu hari nanti. ''Karena kita tidak pernah tau kapan jodoh itu datang", begitu katanya. Saya mengamini kata-kata tersebut. "Iya ya, kalau sekarang saya malah sibuk mencari orang, nanti ketika saya benar-benar ketemu dan memang itu sudah saatnya, apa yang sudah saya punya saat itu?" pikirku. Bahkan buku-buku soal pernikahan saja saya belum pernah baca. Buku-buku tentang membangun keluarga yang samara-pun belum. Apalagi soal anak, cara merawat serta jenis pendidikan apa yang harus saya tanamkan saja belum tersusun dengan rapi. Hanya sekedar konsep-konsep. Lalu apa yang saya punya?

Mungkin satu paragraf di atas terdengar 'mengerikan' bagi sebagian orang. "Haruskah memikirkan hal tersebut di usia sekarang?" Mungkin begitu pikir beberapa pembaca. :] Saya berusia 20 tahun dan bagi saya, itu perlu. Ingat sekali lagi, tulisan ini bukan semacam 'kode' yang ramai dibicarakan banyak kaula muda, atau sekedar bentuk promosi. Bukan, insya Allah bukan. Ini semata-mata berniat untuk membagi pikiran, dan mengajak orang lain juga berpikir demikian.

Jika saat ini kita fokus mencari 'orang', dan lupa persiapan yang sebenarnya adalah kesiapan kita sendiri (fisik & mental) maka sebaiknya kita ubah pemikiran semacam itu. Malu dengan diri sendiri, mintanya diberi jodoh yang baik agamanya, pendidikannya, wajahnya, dan hartanya, tapi dari sekian kategori yang kita tetapkan satu pun barangkali belum kita penuhi. Malu pada diri sendiri. Pantaskah? Mungkin inilah makna dari apa yang selama ini selalu  didengung-dengungkan oleh banyak penasehat, bahwa dibalik memantaskan diri itu ternyata ada banyak sekali hal-hal yang harus dilakukan dan dipersiapkan.

Begitulah seharusnya, saat menyukai seeorang.

Sekian tulisan merah jambu kali ini, semoga bermanfaat! Ingatlah, mungkin ketika anda sampai di blog ini, kemudian membaca tulisan ini, itu bukanlah suatu bentuk kebetulan. Allah pasti punya maksud, pikirkanlah..

Tulisan ini spesial dibuat untuk Malam Minggu.
Semoga nanti menjadi agenda rutin ya..
Doakan, dan tunggu tulisan selanjutnya.

2 comments:

Unknown said... Reply Comment

huaaaa >.< ini aku banget kakak.. ngena banget tulisannya (y)
langsung nancep nih dihatiku hehehe

adreamer said... Reply Comment

Semoga menginspirasi :)