9.10.2014

Tumben


Tumben..
Pagi tadi saya ditegur oleh seseorang yang ketika itu sedang melihat saya menggosok pakaian, "Tumben rajin.. ya begitu dong jangan ngelamun aja kalau pagi."

FYI, pagi tadi (pukul 9) saya sedang menyiapkan pakaian sebelum ke kampus untuk bertemu dosen. Mungkin si fulan yang nyeletuk tadi bisa berkata begitu karena kemarin di jam yang sama saya sedang duduk-duduk dan terlihat melamun. Padahal, saat itu sebenarnya semua pekerjaan rumah saya sudah selesai dan memang tidak ada rencana untuk pergi keluar.

Saya, seringkali menjumpai situasi seperti ini. Tumben, katanya. Banyak orang yang seperti sangat tahu mengenai kehidupan kita lantas mengatakan tumben, seolah-olah mereka adalah orang yang selalu menyimak hal-hal yang kita kerjakan setiap waktu.

Di lain kesempatan, pernah saya ditegur dengan embel-embel tumben juga tentunya.. Waktu itu masih pagi sekali, mungkin sekitar jam 6 pagi. Saya sedang menjemur cucian. Lalu, ada yang tiba-tiba nyeletuk "Tumben jam segini udah nyuci baju.. kok rajin.."
Well, saya anggap kalian akan beranggapan hal yang sama. Padahal, boleh jadi sebenarnya baju itu sudah saya cuci sejak kemarin. Hanya saja, saya baru berniat menjemurnya keesokan pagi. Ada suatu penundaan di sini, harap diperhatikan. Di lain kesempatan bisa saja saja baru mencuci baju sekitar jam 10 pagi kemudian menjemurnya jam 11 siang. Apa yang dikatakan oleh orang-orang? "Kok jam segini baru jemur baju sih? Tuh.. panasnya udah mau hilang.." celetuk mereka.

Hehe. Kadang saya nyengir aja menghadapi orang yang hobi sekali nyeletuk. Mungkin, apa yang saya lakukan itu kelihatannya tampak "lebih rajin" sampai-sampai dibubuhi kata tumben. Akan tetapi pada kenyataannya, justru saat saya dianggap malas dan melakukan hal yang tidak semestinya itulah yang memang seharusnya saya lakukan (tidak menunda).

Anggapan rajin bagi saya justru ketika saya tidak perlu menggosok baju saya lagi ketika akan pergi. Tinggal pilih, karena sudah saya lakukan jauh-jauh hari sebelum dilipat atau dimasukkan ke lemari. Anggapan rajin bagi saya justru ketika saya tidak melakukan penundaan apapun pada pekerjaan saya.

Kerap kali kita membubuhkan kata 'tumben' pada seseorang tanpa banyak tahu. Hanya dengan secuil hal yang kita tahu tentang seseorang, membuat kita seolah-olah mengetahui segalanya. Barang kali, bisa saja kita sedang menegur orang yang sebenarnya tengah berusaha berubah dan memperbaiki diri. Mana tahu setelah ditegur seperti itu malah menyurutkan semangatnya. Mana tau jika ternyata apa yang kita lihat buruk itu bukan berarti demikian.

Begitulah kawan, adakalanya kita harus menahan diri. Terutama pada kebaikan-kebaikan yang sedang diupayakan saudara kita. Jika perubahannya menjadi lebih baik tersenyumlah, lalu doakan dia istiqomah/bertahan dengan pilihannya itu. Tidak perlu kita menilai dan mengeluarkan perkataan seolah kita tahu banyak. Tumben kamu rajin, tumben kamu baik, tumben kamu rapi, dsb dsb. Hindarilah menganggap aneh kebaikan yang diupayakan dengan kata tumben. Gunakanlah kata tersebut di waktu yang lebih tepat..

"Tumben belum solat", misalnya.


No comments: