"Jangan terlalu sesumbar soal kriteria. Kau tak akan pernah tahu kepada siapa hatimu akan jatuh. Bila suatu saat kau jatuh pada seseorang yang bukan kriteriamu, dunia akan bertanya. Yang ku takutkan adalah engkau akan malu. Beruntung jika kau tak peduli anggapan orang lain. Namun, bagaimana jika pada akhirnya kau memutuskan untuk membohongi dirimu sendiri?"
4.13.2015
Kriteria
4.07.2015
Ekspetasi
Ketika membaca status itu, apa yang kalian pikirkan? Apakah kalian akan mengira bahwa saya kecewa terhadap orang lain karena berekspetasi lebih? Sebenarnya tidak. Ini bukan tentang siapapun, ini tentang saya sendiri.
Terkadang, orang lain menaruh berbagai ekspetasi terhadap saya. Mengira saya begini dan begitu. Dimana, pada kenyataannya tidak semua ekspetasi itu mampu saya penuhi. Tidak semua yang mereka pikirkan tentang saya benar. Mereka hanya akan kecewa ketika berpikir lebih tentang saya. Sebagai manusia biasa, tentu saya tidak mampu menjadi senpurna.
Saya pun begitu. Terkadang saya menaruh harapan berlebih pada manusia. Namun lupa, seperti saya, mereka mungkin juga tidak sepenuhnya persis seperti apa yang saya kira. Manusia tentu bisa salah, dan tentunya tidak sempurna. Maka, mengharapkan terlalu banyak pada manusia itu tidak baik. Itu semua, hanya akan membuat kecewa.
Tetapi, lewat kekecewaan itu saya meyakini Tuhan hendak mengajarkan, bahwa hanya kepada-Nya lah kita seharunya berharap (penuh).
Tetapi, lewat kekecewaan itu saya meyakini Tuhan hendak mengajarkan, bahwa hanya kepada-Nya lah kita seharunya berharap (penuh).

4.04.2015
3.31.2015
Menjaga Kepercayaan
"Sebagian orang sulit untuk menyatakan perasaannya (misal menceritakan masalahnya) kepada orang lain. Oleh karena itu, ketika kamu mendapatkan kesempatan untuk mendengarnya, jagalah kepercayaan tersebut. Dengan tidak mengumbar, misalnya."
Hidup atau Kita yang Tak Adil?
Di saat ada banyak orang tidak memiliki pilihan untuk makan, kita mengeluh "makan apa siang ini?"
Di saat ada banyak orang tidak memiliki atap untuk berteduh, kita mengeluh dari dalam rumah "hari ini panas sekali".
Di saat ada banyak orang harus bekerja keras untuk sesuap nasi, kita mengeluh "gajiku sedikit sekali".
Di saat ada banyak anak putus sekolah, kita mengeluh "kuliah itu melelahkan sekali".
Di saat ada banyak orang harus berjalan kaki, kita mengeluh di atas kendaraan "perjalanan ke sana jauh sekali".
Di saat ada banyak orang kehilangan orang yang disayang, kita mengeluh "orang tuaku cerewet sekali".
Di saat ada banyak orang serba kekurangan, kita mengeluh.. Jika sedikit saja tidak membuatmu bersyukur, bagaimana dengan yang banyak?
Sebenarnya, siapa yang tidak adil, hidup atau kita? Mungkinkah, mereka yang tak beruntung itu yang seharusnya ada di posisi kita?
#ntms
3.28.2015
Anak Farmasi Itu...(Harus) Multitalent
Beberapa kali saya menengok bagian traffic source blog ini, saya mendapati beberapa orang (mungkin) tersesat saat sedang mencari clue tentang seperti apa sih mahasiswa farmasi itu. Mungkin, sebagian besar yang mencarinya adalah para pencari petunjuk masa depan, a.k.a anak-anak SMA yang ingin melanjutkan kuliah.
Well, susah juga menggambarkan seperti apa tepatnya anak farmasi itu dan segala tetek bengek dunia perkuliahannya. Tapi, saya rasa dalam beberapa situasi secara garis besar kehidupan anak farmasi itu hampir serupa. Satu hal yang saya dapat simpulkan dari sekian banyak hal adalah anak farmasi itu (harus) multitalent.
Ada yang mengatakan anak farmasi itu harus pintar kimia. Boleh saya katakan, ada benarnya juga namun tidak sepenuhnya. Ada banyak hal yang juga penting untuk membuat kalian bertahan dalam menjalani kehidupan mahasisa farmasi. Sebagian besar memang kita dihubungkan oleh subjek kimia. Tentu saja, kan yang dipelajari obat. Namun, tidak hanya itu. Kita juga dituntut untuk menguasai pelajaran lain seperti matematika, fisika, biologi, dll. Bahkan kemampuan seperti meracik, cara berkomunikasi dan manajemen (terutama manajemen waktu) itu penting sekali untuk dimiliki.
Subscribe to:
Posts (Atom)




