6.28.2014

Things That Hurt

Gambar dari sini
 Things That Hurt..
  • Being unsure of how someone feels about you.
  • Feeling like they are mad at you.
  • Being misunderstood by people you care about.
  • Being judged by people you care about.
  • Feeling like you lost something that was never yours.
  • Feeling like you’re doing too much.
  • Thinking you aren’t doing enough.
  • Not knowing if you should say something.
  • Worried about what they’ll think if you do say it.
  • Feeling like you care more than they do.
via ahobmyeong
Well, said.

6.27.2014

Characteristics of a Muslim Husband

Take from Halal Love Story, i think it will helpfull.. ^^
It would be best describe as how to treat your wife, hehe.
  1. Dress up for your wife, look clean and smell good. When was the last time you went shopping for the best clothing? Just like the husband wants his wife to look nice for him, she also wants her husband to dress up for her too. Remember that the Prophet (PBUH) would always start with Miswak when returning home and always loved the sweetest smells.
  2. Use the best names for your wife. Call your wife by the most beloved names to her, and avoid using names that hurt their feelings.
  3. Don’t treat her like a fly. We never think about a fly in our daily lives until it ‘bugs’ us. Similarly, a wife will do well all day – which brings no attention from the husband – until she does something to ‘bug’ him. Don’t treat her like this; recognize all the good that she does and focus on that.
  4. If you see wrong from your wife, don’t try to change every single imperfection she has about her. Abu Huraira (RA) reported Allah’s Messenger (PBUH) as saying: Woman is like a rib. When you attempt to straighten it, you would break it. And if you leave her alone you would benefit by her, and crookedness will remain in her. [Muslim]
  5. Smile at your wife whenever you see her and embrace her often. Smiling is Sadaqah and your wife is not exempt from the Muslim Ummah. Imagine life with her constantly seeing you smiling. Remember also those Hadeeth when the Prophet (PBUH) would kiss his wife before leaving for Salah, even when he was fasting.
  6. Thank her for all that she does for you. Then thank her again! Take for example a dinner at your house. She makes the food, cleans the home, and a dozen other tasks to prepare. And sometimes the only acknowledgment she receives is that there needed to be more salt in the soup. Don’t let that be; thank her!
  7. Ask her to write down the last ten things you did for her that made her happy. Then go and do them again. It may be hard to recognize what gives your wife pleasure. You don’t have to play a guessing game, ask her and work on repeating those times in your life.
  8. Don’t be little her desires. Comfort her. Sometimes the men may look down upon the requests of their wives. The Prophet (PBUH) set the example for us in an incident when Safiyyah (RA) was crying because, as she said, he had put her on a slow camel. He wiped her tears, comforted her, and brought her the camel.
  9. Be humorous and play games with your wife. Look at how the Prophet (PBUH) would race with his wife Aisha (RA) in the desert. When was the last time we did something like that?
  10. Always remember the words of Allah’s Messenger (PBUH): ‘The best of you are those who treat their families the best. And I am the best amongst you to my family.’ Try to be the best!

NOTE: For the women who read, please do not rub this into your husbands faces because it won’t work to fix the situation.  In fact I believe many things here are applicable to women also respectively.  This should be read with the intention to rectify ourselves and not knit-pick and find faults in others.

In conclusion: Never forget to make Dua to Allah to make your marriage successful.

Aamiin.
I like 7th and 9th point. ^^
 
This is secret! Pssst!

 
 


Lo Pilih Prabowo?


Sebenarnya saya nggak mau ngotorin blog saya dengan ikutan ribut soal kampanye dan pemilu. Meskipun, di dunia nyata saya tetap menyimak perkembangan pemilu dan tentu saja nggak apatis dengan persoalan yang menyangkut masa depan Bangsa ini. Tapi, ketika membaca tulisan ini saya rasa pertimbangan dan pemikiran saya selama ini cukup terwakilkan. Ya, akhirnya saya cukup mantap untuk menentukan pilihan. Seperti kata penulis, pemilu ini bukan tentang siapa yang lebih baik dari yang lain melainkan tentang memilih yang lebih sedikit keburukannya dari yang ada--tentunya dengan subjektivitas saya. Selamat menyimak! Saya hanya merasa anda perlu membaca ini.

Dikutip langsung dari sini 

 




6.24.2014

Dinding

"Aku besar tanpa kejadian-kejadian yg besar. Dan ku pikir, itu bagus. Hidup lebih mudah tanpa kejutan. Dan supaya aman, kita harus punya dinding yang nggak boleh dilewatin oleh siapapun."
Kok kadang saya setuju ya dengan kutipan dialog film pendek ini? 

Sudah Siap KKN?

Waktu kadang tanpa terasa berlalu, entah karena kita menikmati segala proses yang ada atau justru sebaliknya.. tidak ada yang berubah dari diri kita.

Saya harap, saya ada di kategori yang pertama.

Ada banyak hal yang telah dilalui selama hampir 3 tahun menuntut ilmu sebagai mahasiswa. Suka, duka, tangis, tawa, terjatuh, berdiri, berlari, hampir semuanya sudah pernah dirasakan. Sejauh ini, nikmat tidak nikmat, semuanya dijalani dengan penuh rasa syukur. Karena ada banyak sekali hal sulit yang pada akhirnya terlewati dan saat ini saya bisa bilang, "Saya baik-baik saja".

Sekarang ada di sebuah titik, dimana zona nyaman akan kembali ditinggalkan. Saatnya menjalankan pengabdian. Beberapa bulan yang lalu, saya hanya bisa duduk menopang dagu mendengarkan hingar bingar cerita KKN. Cerita beberapa kakak tingkat dari kamar sebelah. Ada yang nelangsa, ada yang riang-riang saja. Lucunya, ada yang bahkan harus tidur di atas kardus, menerjang jalan berlumpur berjam-jam, berbuka puasa dengan air hujan, atau berjuang hanya untuk mencari makan.

Kini, saya yang bertanya-tanya. Akan ada kisah apa ya nantinya? Apakah nelangsa, penuh lara, atau
sukacita?

Ah, kita tunggu saja.
Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah Shallallahualaihiwassalam bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)
dikutip dari sini 

Semoga ini menjadi salah satu jalan untuk menjadi bermanfaat! Belajar dan belajar!

6.21.2014

Random Night

Ceritanya sudah selesai ujian untuk semester ini. Betapa senangnya saya pada akhirnya bisa juga melewati semester dengan ambilan 10 mata kuliah ini. Fiuh! Ini ambilan terbanyak loh, sebelumnya saya cuma mengambil paling banter 9 mata kuliah. Sekedar curhat, mungkin kuliahnya nggak terlalu terasa, paling menyita 2 jam setiap minggunya. Yang agak bikin berat itu adalah ujiannya, tugasnya, diskusinya. :D Ya itu bisa dibilang semuanya nggak? At least, mata kuliah Interaksi obat yang saya ambil lumayan banyak manfaat sama kaitannya sih di semester ini. So far, nggak perlu disesali.

Malam ini, lepas sudah dari belenggu ujian berhari-hari itu. Saatnya refreshing otak, pilihannya jatuh pada maraton film! Haha. Ada tiga film yang saya tonton malam ini. Saya pilih secara random. Di antara ketiganya yang berkesan adalah yang terakhir, bergenre keluarga, love, life. Saya nggak milih-milih loh ya.. nontonya juga random kok. Film pertama cerita kisah cinta tapi yah.. terlalu klasik dan fantasi banget lah. Film kedua ternyata action -_-. Film ketiga, so touching!

Nggak perlu sebut judul filmnya ya, ketauan ntar nggak update-nya :D.

Setelah nonton film ini saya jadi bertanya-tanya, kenapa ya dua orang yang saling cinta--atau seenggaknya saling menyayangi--itu susah banget untuk jujur satu sama lain?

Kedua, pernyataan 'Ketika memang ditakdirkan bersama, Tuhan nggak akan menggerakan satu hati melainkan sekaligus dua-duanya' itu sepertinya benar. Dengan catatan, kita memperjuangkan orang yang tepat, yaitu orang yang tau jika ia sedang diperjuangkan.

Ketiga, perfect couple doesn't always perfect man and woman. Justru dengan segala kekurangan dan kepayahan yang dimiliki mereka udah kayak gembok sama kunci, klik aja gitu. Justru saling melengkapi. Wanita cantik pintar dan dewasa ini, siapa yang tau justru menitipkan kebahagiaanya pada seseorang yang dia katakan bodoh, payah dan nggak dewasa.

Terakhir, ada banyak pilihan dalam kehidupan kita. Namun, kita yang menentukan mana yang penting dan berharga untuk kita simpan dan prioritaskan. Contohnya, di sini si tokoh lebih memilih keluarganya dibanding pekerjaan.

Saya kira itu. :)
Ilustrasi



6.18.2014

Sembunyi, Lari, Menarik Diri?

Saya bingung. Iya beberapa hari ini saya bingung harus berbuat apa. Saya mau tuliskan juga saya bingung mau menulis apa. Sampai pada kalimat ini pun saya sebenarnya masih bingung mau menulis apa. Tapi ya sudahlah, kan sudah tertulis hehe.

Kenapa tetap menulis? Karena katanya bagaimanapun menulislah untuk tetap memelihara jiwa kita. Menulislah karena nantinya tulisan itu sendiri yang akan memberikan nasehat kepada diri kita, ketika kita tidak tau harus bagaimana. Ketika kita ragu untuk mendengarkan bisik-bisik di dalam hati itu atau tidak. Bagaimanapun menulislah, bukan untuk sebuah pujian atau untuk orang lain. Tapi, semata-mata untuk diri kita sendiri, untuk memelihara jiwa kita.

Saya belakangan bingung karena saya marah. Entahlah, kenapa saya bisa tiba-tiba begitu reaktif dan sensitif. Namun, seperti biasa ketika marah ya saya hanya bisa diam, memendam. Saya mana boleh melemparkan kemarahan pada orang lain. Toh, setelah saya pikir-pikir yang membuat saya marah adalah karena saya merasa sakit. Orang yang bertanggung jawab menyakit diri saya bukan orang lain, tapi diri saya sendiri yang mengizinkannya. Tentu saya bisa saja tidak menganggap dan tidak memperdulikan semuanya, yang berujung pada saya tidak akan merasa terluka atau apa. Tapi, kadang melakukannya tidak semudah menuliskannya.

Ada satu ketika kamu telah memupuk harap, jaraknya pun terasa sudah teramat dekat. Namun, justru ketika harapan itu sedang melambung tinggi-tingginya maka ia berpotensi untuk mudah sekali jatuh dan goyah. Ya, semakin tinggi lambungannya maka semakin kencang angin yang akan menerpanya. Lalu, menaruh harap pun menjadi sesuatu yang amat riskan dan menakutkan. Mundur teratur pun kembali dilakukan. Harus bagaimanakah menaruh harap itu dilakukan? Saya masih tidak punya jawaban.

Ya, kembali membangun benteng diri, bersembunyi, dan melarikan diri mungkin bisa menjadi pilihan untuk saat ini.