1.13.2014

Marriage : It's Not About You

My dad giving his response to my concerns was such a moment for me. With a knowing smile he said, “Seth, you’re being totally selfish. So I’m going to make this really simple: marriage isn’t for you. You don’t marry to make yourself happy, you marry to make someone else happy. More than that, your marriage isn’t for yourself, you’re marrying for a family. Not just for the in-laws and all of that nonsense, but for your future children. Who do you want to help you raise them? Who do you want to influence them? Marriage isn’t for you. It’s not about you. Marriage is about the person you married.

From: www.viralnova.com
Kutipan tulisan itu saya ambil pada tanggal 5 November 2013. Sesekali saya buka dari Evernote saya, untuk mengingatkan, bahwa pernikahan itu bukan semata-mata tentang 'saya'.

Mungkin anda yang membaca tulisan saya akhir-akhir ini--sejak berkepala dua (umur)--merasa sedikit aneh atau semacamnya. "Kenapa sih harus membicarakan pernikahan terus? Apa itu yang disebut syndrome usia 20-an?"

Pertama, jawabannya adalah ya. Bagi kaum wanita, sepertinya sudah saatnya memikirkan hal tersebut, karena memang di usia ini undangan pernikahan teman mulai berdatangan. Tidak heran kan jika terlintas dalam pikiran mereka, "Aku kapan?". Setidaknya dalam waktu dekat akan menyusul, tidak sampai 5 tahun, karena itulah standar kebanyakan orang, di atas 25 tahun, anda pasti tau pandangan orang lain terhadap seorang wanita pasti berubah. Meskipun, pernikahan itu bukan soal siapa yang lebih dulu, tapi itulah yang terjadi di sekeliling kita.

Kedua, belajar soal pernikahan itu bukan aib. Itu adalah kewajiban, menurut pendapat saya. Kata ust. Abay, belajar nikah itu bukan aib. Sepertinya belajar dengan membina hubungan haram itu yang aib. Sayang, banyak yang berpikir sebaliknya. Sayang banyak yang tidak sadar membina hubungan sebelum pernikahan itu seperti memancing. Setelah strike, habislah keseruannya.Sementara  belajar soal nikah, justru dianggap memalukan.

"Lo ngebet?"

Pertanyaan dangkal.

Ingatlah, menikah itu sama dengan separuh agama.

1.12.2014

Getting by Giving



Salah satu ajaran Ibu yang selalu saya ingat adalah pesan beliau untuk saling berbagi, terutama pada tetangga dekat. Dan untuk persoalan yang satu ini, saya tidak hanya diajarkan lewat petuah, nasehat. Namun, melalui sikap yang ibu tunjukkan. Ketika itu, setiap kali ibu memasak menu yang menurut saya enak dan tidak seperti biasanya, maka ibu akan meminta saya untuk mengantarkan semangkok masakan itu ke tetangga sebelah. Tepat saat masakan tersebut baru saja diangkat, sedang panas-panasnya.

Kemudian beliau berkata, Rasulullah ketika istrinya memasak, beliau akan berjalan-jalan dan mengukur sampai mana jarak masakan istri beliau tercium. Maka, sampai batas itulah beliau meminta istrinya untuk membagikan makanan tersebut. Saya, secara khusus tidak pernah mencari tau hal ini lebih jauh. Dari riwayat mana kisah ini, hadits siapa, dll. Tapi, yang saya tau, ada pesan baik di balik cerita Ibu saya itu.

"Jadi, kalau ada orang goreng ikan asin gimana ? Baunya kan kemana-mana?" canda kami.

1.10.2014

Peperangan Di Antara Wanita



Saya sempat terdiam, berpikir sejenak dan mengangguk perlahan. Kemudian, saya tersenyum sebagai tanda malu. Saya malu karena apa yang waktu itu saya baca, ada benarnya. Dan sekali lagi, saya tidak sadar bahwa saya telah 'terseret'.

Adalah tulisan mas Kurniawan Gunadi "Perang Cantik" yang saya baca beberapa hari yang lalu, saya lupa tepatnya hari apa. Tapi yang jelas, makna di balik tulisan itu sama sekali tidak saya lupa. Mari saya ceritakan sedikit-- tentunya dengan bahasa saya.

Saat ini, banyak wanita yang berlomba-lomba untuk menjadi cantik. "Wanita mana sih yang tidak ingin terlihat cantik?" Bahkan, saya tidak bisa menyangkalnya. Entah soal cantik dari sisi mana, dari segi apa, wanita tetap saja ingin terlihat cantik. Mari sebentar saja kita kesampingkan persoalan ingin terlihat cantik yang seperti apakah wanita itu.

Tetapi, tampaknya jenis-jenis kecantikan wanita saat ini tidak ada kategorinya. Semua menganggap sama saja. Wanita cantik itu yang kulitnya putih mulus, tau cara berpakaian yang menarik, bisa merias diri, dan hal-hal sejenis itu. Mungkin--saya katakan mungkin--sebagian besar berpikiran seperti ini. Setidaknya wanita itu sendiri.

1.03.2014

Kenapa Daunnya Jatuh?


 Jujur saja, sebenarnya saya paling membenci ketika saya harus menjalani sesuatu yang ditentukan oleh orang lain. Toh, saya kan manusia dengan akal sehat. Kenapa sih saya tidak boleh menjalani segala sesuatu sesuai pilihan saya? Kenapa harus ada yang dengan semena-mena menentukan, harus seperti apa dan menjadi apa diri saya ini.

Kadang saya ingin memaki, memangnya kamu pikir saya nggak punya akal sehat? Berani sekali kamu menentukan pilihan hidup saya?! Tapi terkadang makian itu justru seharusnya saya layangkan kepada diri saya sendiri. Loh, saya kan tadi mengaku berakal sehat. Namun, kenapa mau-maunya ditentukan pilihannya oleh orang lain. Kamu kan bisa memilih mengikutinya atau tidak. Begitu protes diri saya pada diri saya sendiri.

Akan tetapi, apa semua idealisme saya di atas selalu berlaku? Ya kadang tidak. Ada kalanya, saya pun memang harus memilih pilihan yang ada, yang dibuat oleh orang lain. Itu sekali lagi ya karena saya tidak membuat pilihan sendiri, lebih memilih dibuatkan pilihan kemudian dipilihkan satu di antaranya.

1.02.2014

Menghargai Bantuan Orang Lain

“Ketika kita meminta bantuan kepada orang lain, pada dasarnya kita meminta sebagian   dari hidupnya. Mereka harus memberikan sebagian waktu mereka untuk kita, sementara waktu adalah penyusun kehidupan, bukan? Maka hormati, sangatlah hormati, orang yang bersedia membantu, berpartisipasi, berkontribusi untuk kita. Meski tidak memuaskan, meski pada akhirnya tidak menghasilkan apa-apa, jangan sesekali menghargai murah apa yang telah mereka berikan. Karena pada dasarnya, yang mereka berikan adalah sebagian dari hidup  mereka.”
 Yasir Mukhtar
 ( yasirmukhtar.tumblr.com )



Menasehati Diri Sendiri (Heart VS Logic)



Pernah nggak kalian mengalami hal seperti Alice pada gambar di atas. Seringkali, memberikan nasehat dan solusi terhadap permasalahan orang lain itu jauh lebih mudah dibandingkan memberikan nasehat untuk diri kita sendiri.

Ketika ada yang bertanya dan meminta saran ke kita, duh bukan main mudahnya kita berkata "harusnya kamu begini, begitu..". Eh, ketika permasalahan yang sama menghampiri kita, "Ah, bingung! Masa saya harus begini, begitu? Nanti kalau malah jadi begini bagaimana? Nanti begini, nanti begitu?".

Iya nggak? Udah ngaku aja. :D Kadang saya juga gitu kok. Kita bisa melihat dengan jelas solusi yang harus dilakukan seseorang ketika mengahadapi sebuah permasalahan, tetapi tidak berlaku ketika kita yang mengalaminya.

Kira-kira  kenapa ya?

Tau nggak, ketika kita memberikan solusi ataupun nasehat kepada orang lain, terkadang kita tidak melibatkan perasaan kita di dalamnya. Jadi kita melihat dengan akal sehat--logika, bagaimana seharusnya permasalahan tersebut diselesaikan. 

1.01.2014

An Optimistic

Seorang yang optimis itu menjadikan dirinya seperti Buldouzer, dia tau jalanan di depannya tidak lurus, penuh halang dan rintang. Oleh karena itulah, dengan keyakinannya dia akan meratakan jalan di depannya.
Andrie Wongso (Wideshot)